2016
eka-kurniawan

Corat-Coret di Toilet

Rp 45.000

“Aku tak percaya bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya kepada dinding toilet.”

Deskripsi

“Cerpen yang keseluruhannya ditulis pada periode 1999-2000 ini tak sekadar kisah, namun semacam jejak sejarah.” – widyanuari eko putra, jawa pos

AKU TAK PERCAYA BAPAK-BAPAK ANGGOTA DEWAN, AKU LEBIH PERCAYA KEPADA DINDING TOILET

“Kelihaian Eka Kurniawan bercerita tampak ditopang oleh sudut pandang dirinya terhadap drama kemanusiaan […] Menariknya, penulis mampu menyelipkan humor segar yang tetap kuat terjalin dengan bagian-bagian lain.” – yohanes krisnawan, kompas

“It shows Eka’s gift for startling imagery, sharp and unexpected changes of tone, and his ‘extra-dry’ sympathy for the fellow-members of his late-Suharto generation.” – benedict anderson, indonesia

” Very striking prose.” – tariq ali, finnegan’ s list

Detail
Berat0.3 kg
Dimensi14 x 21 cm
Bahasa

Penerbit

Tahun Terbit

Jumlah Halaman

138

Format

ISBN13

9786020328935

Penulis

Ulasan (0)

Review

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama mengulas “Corat-Coret di Toilet”
Tentang Eka Kurniawan
Eka Kurniawan lahir di sebuah desa, dua jam dari Tasikmalaya, 28 November 1975 dan tinggal di sana dengan keempat kakek-neneknya. Desa itulah yang menjadi pijakan awal O Anjing. Beberapa bahan lainnya diperoleh dari tempat lain: ia mengikuti orangtuanya tinggal di perkebunan karet di Cilacap, sebelum mereka pindah lagi ke kota kecil Pangandaran. Di kota itulah, tepatnya ketika masuk SMPN 1 Pangandaran, keinginan untuk menulis pertama kali muncul. Barangkali didorong oleh perkenalannya dengan buku bacaan yang disewakan oleh taman bacaan yang berkeliling dengan sepeda. Puisi pertamanya muncul di majalah anak-anak Sahabat. Ia juga menulis cerpen-cerpen lucu untuk dibaca teman-temannya. Sekolahnya dilanjutkan ke SMAN 1 Tasikmalaya dan tinggal bersama bibinya. Di sana ia lebih banyak di perpustakaan sekolah, menulis di rumah (ayahnya menghadiahinya mesin tik portable karena berhasil meraih lima besar lulusan terbaik) hingga kemudian ia merasa bosan. Ia memulai perjalanan selama berminggu-minggu melintasi kota-kota hingga Jakarta, kemudian berbelok ke timur melewati Cirebon, Tegal, dan Purwokerto. Ketika ia kembali, sekolah telah mengeluarkannya. Ia kembali ke Pangandaran dan masuk SMA PGRI, satu-satunya sekolah yang mau menerimanya tanpa harus mengulang kelas. Selama empat semester ia berhasil mempertahankan ranking pertama tanpa kehilangan kegemarannya untuk membolos; ia suka menjelajahi.